Uli Mayang

18 July 2019

perlukah pendidikan dini atau sekolah TK berbasis agama

perlukah-pendidikan-dini-atau-sekolah-tk-berbasis-agama
sebelumnya saya minta maaf untuk isi konten yang semakin semerawut tidak jelas. di sisi lain saya pun tidak peduli. bodo amat, karena saya memang egois dan merasa saya pemilik blog ini sehingga saya bebas menulis apa saja di sini. awalnya curhatan curhatan ini saya tulis di medsos saya hingga status status aplikasi chat saya. belakangan ini saya merasa rugi menulis di sana. rugi status sepanjang itu hilang begitu saja tanpa jejak (status WA) atau berjejak tapi terputus, tidak sepenuhnya unek unek saya terlampiaskan. maka dari itu saya pindah ke blog. 


awalnya saya tidak begitu peduli dengan celotehan lingkungan saya karena saya pekerja. semejak saya menjadi ibu rumah tangga, saya jadi pribadi yang baper semua jadi mudah masuk ke hati dan kepikiran. awal nya saya biasa saja, sampai akhirnya saya merasa tertekan sendiri. hingga menulis di status, sayangnya tidak semua orang mengerti maksut saya dengan jelas karena kapasitas karakter yang bisa di tulis di status WA. kebanyakan orang salah tanggap atau separuh mengerti tentang saya. memang itu baik dan sudah saya setting seperti itu, tapi sekaligus bumerang. image Nyentrik tersematkan pada saya. 

seperti contoh belakangan ini para ibu ibu muda seperti demam Agama, angin hijrah sedang berhembus di mana mana. sampai soal pendidikan harus berbau agama. ibu ibu muda ini riuh mencari sekolah buat anak-anak nya yang berbau agama. hebring anak tetangga di ajak sekolah TK agama sini dan sana. sedangkan saya tidak memasukkan anak saya ke sekolah berbasis agama. saya malah sibuk mencari sekolah berbau Nasionalis. perbedaan ini membuat saya di cap kelas "abangan". 


perlukah-pendidikan-dini-atau-sekolah-tk-paud

sebenarnya bukan saya benci sekolah berbau agama, saya suka kok dengan sekolah agama. hanya saja nilai dan kepercayaan yang saya pegang berbeda dengan mereka. menurut saya untuk anak seumuran dua tahun sampai tujuh tahun alias taman kanak kanak (TK) tidak perlu sekolah yang terlalu agamais. karena nilai-nilai itu bisa di ajarkan di rumah. karena saya ibu rumah tangga sehingga waktu saya lebih banyak di banding para ibu yang bekerja. saya masih mampu mengajarkan pelajaran agama pada anak saya.

okelah, saya tidak cerdas cerdas amat. saya juga bukan seorang yang baik baik banget. ilmu agama saya juga cetek. tapi untuk sekedar mengajarkan anak usia tiga, empat tahun alias play group dan TK saya rasa ilmu agama ini masih sangat mumpuni. bukanya sombong hanya saja kan logikanya begitu, usia segitu di sekolah agama pun yang di ajari ya dasar seperti ; baca huruf hijaiyah. doa doa yang di ajarin ya masih seputar doa sehari hari. misal; doa sebelum makan, sesudah makan, sebelum tidur, bangun tidur, masuk kamar mandi, keluar kamar mandi, doa menuntut ilmu dll

pelajaran agama yang masih dasar ini kan masih bisa di ajari di rumah tidak harus di sekolah. di tambah di dekat rumah saya itu ada taman pendidikan Al-Qur'an (TPQ) alias sekolah sore aka ngaji. Saya sampek bingung dengan ibu ibu muda ini sampek segitu nya meyakinkan saya. beriklan dan merendahkan pilihan orang lain. 

"sekolah agama penting, anak yang pertama harus didik akhlak nya" 

"pendidikan yang baik harus di lingkungan yang baik"

"pendidikan agama harus sedini mungkin, jangan sampai menyesal"

"agama anaknya baik, biar orang tuanya masuk surga"

oke tidak ada yang salah dengan kalimat di atas, saya katakan semua benar. tapi dalam prakteknya mereka semua kurang teliti. jika pendidikan agama sepenting itu kenapa di serahkan pada orang lain? kenapa tidak anda sebagai orang tua yang menanamkan pendidikan dasar itu? kenapa tidak anda ciptakan lingkungan itu? maksud saya begini, apa tidak sayang pahala itu di berikan pada orang lain? katanya orang tua mau masuk surga, kenapa tidak mengajarkan baca huruf hijaiyah di rumah? bukanya selama anak anda membaca Al-Qur'an nantinya pahala itu mengalir ke anda, karena mengajarkan ilmu yang bermanfaat? hebat kan anda benar benar melakoni madrasah utama anak.

pendidikan-dini-agama-belajar-mengaji-di-TPQ

kenapa tidak doa doa pendek dan surah pendek itu anda ajarkan sendiri? bahkan jika anak anda lupa tidak mendoakan ada, anda tetap mendapatkan pahala itu selama anak anda berdoa/shalat/sembahyang. minimal buat saya surat al-fatekah wajib saya ajari sendiri. 

perbedaan ke dua adalah faham. saya ingin mengajarkan anak saya tentang pemahaman dasar yang sangat dasar. saya tidak mau anak saya tidak bisa membedakan mana sunnah dan mana wajib. sayang nya sekolah berbasis agama bahkan secara umum di indonesia hal ini jarang di bahas. contoh simpel soal wudhu, di sekolah yang diajarkan langsung paket wajib+sunnah, wudhu 3x3 yang diajarkan nabi. sehingga anak sekarang bakalan aneh lihat orang wudhu paket wajib saja 1x1. maksut nya cuma membasuh wajah, kepala, tangan, kaki masing masing satu kali. 

sejujurnya saya juga sempat terbesit untuk menyekolahkan anak saya di sekolah bebasis agama. kemudian saya tinjau ulang. seperti nya saya yang tidak mampu bersinergi dengan beberapa sekolah yang saya kunjungi. entah mungkin saya yang terlalu baper. sepertinya begitu, saya terlalu baper. bisa juga saya belum bertemu sekolah yang mantap di hati. karena melalui bebarapa kunjungan sekolah, saya menemukan ada sekolah yang hari senin tidak melaksanakan upacara dengan alasan tidak boleh menyembah bendera. jelas langsung saya skip, karena buat keluarga kami NKRI harga mati. lagian bedakan sembah dan menghormati saja kok tidak bisa ? 

ada sekolah taman kanak kanak yang lagunya "cita cita ku mati sahid" oh big no, cita cita adalah jadi guru, insinyur, dokter, tentara, wiraswasta. anak kecil masih TK kok lagu cita cita mati. saya yang super baper mungkin, saya takut lagu ini tertanam di alam bawah sadar anak saya. karena sering di ulang ulang. akhirnya saya skip juga.

sekolah-sore-anak-mengaji-di-kampung-TPQ

lalu sekolah berikutnya yang memang sekolah berbasis agama memampang baleho (spanduk) besar di pintu gerbang sekolah "saya malu jika ibu saya tidak berjilbab" oke lah bener buat sekolah agama menuliskan itu, hanya saja berhubung saya tidak berjilbab jadi saya baper!. haha... lagian kenapa juga harus begitu amat? jika anak ini ibunya mungkin ahli kitab bagaimana? atau mungkin ibu nya bukan orang alim yang ingin kebaikan bagi anaknya, apa kah harus berjilbab dulu baru boleh sekolah disana? benar tidak ada larangan untuk ibu tanpa jilbab. hanya saja, anak kecil saat yang satu punya mainan. pasti yang lain juga minta. percaya atau tidak di banding orang dewasa anak kecil yang paling peka dan kritis.

kenapa tidak sekalian di tulis saja "saya malu punya ibu pencuri koruptor!" kan lebih tepat sasaran itu. becanda, ini memang perbedaan faham saya saja. karena menurut saya malu itu jika melakukan asusila parah. misal berzina, pencuri, pemabok, penjudi ya yang kayak gitu gitu lah. 

sekolah selanjutnya yang saya kunjungi agak serem buat saya. saya tahu itu sunnah menggunakan cadar. hanya saja kurang cocok untuk saya. anak usia dini harusnya di ajarkan seni baca mimik. melihat ekspresi wajah orang lain, karena ini penting banget untuk menyampaikan emosi dan menjelaskan perasaan. saya tidak tau biasanya seperti apa, saya benar tidak tau proses belajar mengajar nya seperti apa. saya tidak berani komentar, saya hargai hormati perbedaan dan kepatuhan mereka menjalankan sunnah. cuma saya jujur merasa asing saja dengan suasana banyak pengajar bercadar. saya tidak terbisa dengan situasi ini, sehingga mebuat saya canggung.

berikutnya sekolah yang menyenangkan buat saya, saya cocok tapi sayang sekolah anak kecil saja kok sampai full day. kasihan anak nya. selain itu kemungkinan saya juga tidak bakalan kuat karena anak di biasakan hapalan dua ayat perhari. mungkin saya yang jatuh duluan mental nya, tapi beneran saya takut banget suruh hafalan. minder saya, hahaha...

pendidikan-agama-sekolah-sore-anak-mengaji-di-kampung-TPQ

akhirnya saya menarik kesimpulan saya memang tidak cocok untuk menyekolahkan anak saya di sekolah berbasis agama. mungkin sudah jatah saya sekolah biasa biasa saja. karena buat saya perasaan senang adalah yang utama. karena saya yang bakalan antar, jemput sekolah. saya yang bakal mengajar ulang pelajaran di rumah. sehingga saya wajib merasa suka dengan sekolah dan punya keterikatan emosional dengan guru nya. dan itu semua tidak saya dapat kan di sekolah berbasis agama di sekitar saya.

saya putuskan untuk sekolah di sekolah TK biasa saja, sore hari mengaji di TPQ dan belajar agama di rumah saja. bila nanti di kemudian hari SD, SMP, atau SMA ada perubahan dan saya berubah haluan menyekolahkan anak saya di sekolah berbasis agama ya no body knows. yang jelas saat ini saya merasa sekolah berbasis agama belum begitu urgent karena anak saya masih TK. saya berharap dengan ini anak saya lebih bisa menghargai perbedaan dalam hidup nya kedepan. karena sudah terbiasa dengan toleransi teman sekolah yang berbeda keyakinan. terbiasa dengan lingkungan yang semarak berwarna warni ada yang jilbab'an ada yang tanpa jilbab. Ada yang beragama hindu, kristen, islam, budha, katolik, konghucu. ada yang kuning langsat, sawo matang, putih, hitam. ada yang kriting, lurus, ombak. 

sekian unek unek saya. 
semoga dengan ini ke depannya tidak ada lagi cap saya anti agama. ketahui lah, saya sudah mencoba  masuk lingkup itu tapi memang saya merasa belum cocok dan sangat penting saat ini. tapi jika kedepanya masih ada yang menganggap saya salah dan kurang tepat, ya sudah! terserah anda saja. sama seperti anda saya juga punya prioritas berbeda dalam hidup. tidak bisa di paksakan. and this is my choices.

salam sayang

uli mayang

3 comments:

  1. Hal yang membuat saya sedih adalah, ketika orang tua sudah menyekolahkan anaknya ke sekolah berbasis agama, lalu seolah lepas tangan karena sudah "merasa" anaknya akan aman dan beriman. Padahal, pendidikan agama yang paling utama justru seharusnya dari orang tua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, padahal sekolah tk cuma Dua jam. Di rumah lebih banyak waktu di habiskan. Kebiasaan di Bentuk di rumah. Boleh jadi anak pinter teori semua doa hafal. Tapi anak di rumah Punya kebiasaan yang tertanam baik di Alam bawah sadar. Misal respon langsung: masuk rumah Salam, Bismillah, selesai alhmdulillah. Karena memang itu sudah terbiasa di lakukan. Bukan sekedar hafalan teori. 😊 Tapi tetap saja Saya salut buat ibu Dan pilihan hidup nya

      Delete

Thanks for a nice comment

uli mayang.